GUNUNG SEMERU



GUNUNG SEMERU

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, dan merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 mdpl) dan Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Secara administratif Gunung Semeru berada di antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Gunung Semeru masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Untuk pendakian ke Semeru hanya memiliki satu jalur yaitu melalui Desa Ranupane, Kabupaten Lumajang. Kawah yang terdapat di puncak Gunung Semeru terdiri dari kawah Mahameru yang sudah tidak aktif dan kawah Jonggring Saloka yang masih aktif. Kawah Jonggring Saloka terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru.
Jenis flora di wilayah Gunung Semeru didominasi jenis cemara gunung (Casuarina junghuniana), jamuju (Podocarpus sp), mentigi (Vacinium varingifolium), kemlandingan (Albizia lophanta) dan akasia (Accasia decurents). Untuk tumbuhan bawah umumnya adalah alang-alang (Imperata cylindrica), kirinyuh (Euphatorium odoratum), tembelekan (Lantana camara), harendong (Melastoma malabathicum) dan Edelwiss putih (Anaphalis javanica). Di lereng yang curam menuju puncak Semeru, sekitar daerah Arcopodo, terdapat jenis paku-pakuan seperti Gleichenia volubilisGleichnia longisumus dan beberapa jenis anggrek endemik Semeru. Di ketinggian lebih 3.100 mdpl tanpa vegetasi sama sekali karena berupa batuan, pasir dan abu. Jenis fauna di sekitar Semeru di antaranya beberapa jenis burung seperti belibis (Anas superciliosa) dan elang, primata, dan mamalia, seperti macan kumbang (Panthera pardusi), kijang (Muntiacus muntjak), dan kancil (Tragulus javanica).]
Jalur pendakian Gunung Semeru
1. Ranu Pane – Ranu Kumbolo

Di Resor Ranu Pane (Pos Ranu Pane) yang berada di ketinggian 2.200 mdpl, menjadi pos perizinan dan pengecekan bagi semua pengunjung. Pengunjung yang datang berombongan cukup diwakili pemimpin kelompok dengan menyerahkan fotokopi KTP, daftar nama pengunjung, surat keterangan sehat, dan daftar barang bawaan pengunjung. Di sini sudah ada warung dan juga pondok bagi pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Anda bisa bermalam dahulu jika tiba pada malam hari, karena batas akhir perizinan untuk mendaki hanya sampai pukul 16.00 WIB. Di Pos Ranu Pane ini terdapat dua buah danau yakni Ranu Pane (1 ha) dan di sebelahnya Ranu Regulo (0,75 ha).
Jalur yang paling sering digunakan adalah jalur Watu Rejeng dengan waktu tempuh 4 -5 jam. Jalur ini lebih mudah dan bersahabat bagi pendaki pemula. Di setiap perjalanan akan ada beberapa shelter yang biasanya digunakan untuk beristirahat sejenak. Anda akan melewati Landengan Dowo (2.270 mdpl) yang didominasi pohon akasia. Setelah berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi edelweis, para pendaki akan sampai di Watu Rejeng (2.300 mdpl), merupakan tebing terjal setinggi sekitar 100 m dengan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan perbukitan yang ditumbuhi pohon cemara dan pinus. Tak berapa lama pendaki akan sampai di Ranu Kumbolo (2.390 mdpl) yang memiliki luas 12 Ha. Pendaki sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda di sini. Danau ini berair jernih dan memiliki pemandangan sangat indah, terutama pada pagi hari matahari akan terbit di sela-sela perbukitan.
Jalur lainnya yang lebih dekat biasa digunakan para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek. Awalnya akan melalui jalur landai di lereng bukit yang ditumbuhi alang-alang. Tetapi tidak terdapat arah penunjuk jalan, hanya setiap jarak 100 m Anda akan menemui penanda ukuran jarak. Anda hanya mengikuti tanda-tanda tersebut. Di jalur ini banyak terdapat pohon tumbang dan ranting-ranting pepohonan. Jalur ini akan berakhir di Ranu Kumbolo.
Ranu Kumbolo – Kalimati
Sebelum meninggalkan Ranu Kumbolo sebaiknya Anda menyiapkan air sebanyak mungkin. Pendakian diawali dengan melewati bukit terjal yang oleh para pendaki disebut sebagai Tanjakan Cinta, satu tanjakan menyerupai bentuk hati. Setelah Tanjakan Cinta, terbentang sebuah padang rumput luas Oro-oro Ombo yang dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah. Padang rumput terhampar memanjang berwarna kekuningan mirip sebuah mangkuk dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus. Dari balik Gunung Kepolo sudah nampak puncak Semeru yang menyemburkan asapnya. Gunung Kepolo (3.095 mdpl) merupakan hutan yang ditumbuhi pohon cemara gunung dan tumbuhan paku-pakuan. Di sebelah selatan padang rumput Oro-Oro Ombo terdapat hutan Cemoro Kandang. Setelah Cemoro Kandang perjalanan berlanjut ke padang rumput luas yang disebut Jambangan (3.200 mdpl), di sini terdapat beberapa cemara, mentigi, dan bunga edelweis. Dari tempat ini tak berapa lama lagi pendaki akan sampai di Pos Kalimati (2.700 mdpl). Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati berjarak 5 km dan membutuhkan waktu tempuh 2-3 jam.
Dinamakan Kalimati karena sungai ini tidak berair dan hanya mengalir pada musim hujan bersama lahar dingin Semeru. Daerah ini berupa padang rumput seluas 20 ha dengan tumbuhan semak dan edelweis, dengan dikelililngi hutan cemara dan perbukitan rendah. Kalimati merupakan tempat berkemah para pendaki sebelum melanjutkan pendakian. Di sini terdapat fasilitas pondok pendaki, namun untuk kebutuhan air dapat diperoleh di Sumber Mani, terletak di sebelah barat dengan menyusuri tepi hutan berjarak satu jam perjalanan pulang pergi. Di tempat ini terdapat tetesan air dari celah batu yang dikumpulkan sehingga membentuk pancuran air.
2. Kalimati – Arcopodo

Biasanya pendaki meninggalkan Kalimati menuju puncak dimulai pada pukul 24.00 – 2.00 dinihari dengan melalui hutan cemara dan bukit pasir. Untuk menuju Arcopodo Anda berbelok ke timur sepanjang 500 m, lalu berbelok ke selatan dengan sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Anda akan melewati hutan cemara yang sangat curam dan tanahnya mudah longsor dan berdebu. Sebaiknya sebelumnya anda menyiapkan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu tertiup angin. Arcopodo (2.900 mdpl) berjarak 16,4 km dari Ranu Pane, adalah sebuah tempat basecamp terakhir dan terkadang digunakan para pendaki untuk bermalam. Di tempat ini konon pernah ditemukan dua buah arca yang sama bentuknya sehingga disebut arcopodo. Di Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selanjutnya kita akan melewati bukit pasir.
Arcopodo – Puncak Mahameru
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu sekitar 3-4 jam dengan melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah rontok. Semua barang bawaan sebaiknya ditinggalkan di Arcopodo atau Kalimati. Untuk menuju puncak pendaki berangkat pada pukul 2 dinihari karena pada siang hari medan yang akan dilalui makin berat, selain cuacanya panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Pada siang hari angin cenderung bertiup ke arah utara menuju puncak dengan membawa gas beracun dari kawah Jonggring Saloka.
Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak Mahameru (3.676 mdpl). Dari puncak ini akan terlihat kawah Jonggring Saloka dan yang unik setiap 10-15 menit menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Di puncak Mahameru pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloka dan tidak mendaki dari sisi sebelah selatan, karena terdapat gas beracun dan aliran lahar. Suhu di puncak Mahameru sekitar 4 – 10˚ Celcius, dan pada puncak musim kemarau sampai minus 0˚  Celcius, dan bisa dijumpai butiran kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang dan pada bulan Desember–Januari sering terjadi badai. (Dirangkum dari berbagai sumber)

Komentar